Hari Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional, Jurnalis Juga Jadi Korban
25 November diperingati selaku International Day for the Elimination of Violence against Women atau Hari Anti-Kekerasan Pada Wanita. Federasi Bangsa-Bangsa (PBB) tinggalkannya didasari pada kedukaan atas kekerasan yang dirasakan oleh golongan wanita, tidak kecuali pada periode wabah COVID-19 ini.
dampak positif liga pada penjudian bola online
Diambil dari situs UN, Rabu (25/11/2020), kekerasan pada wanita bisa berlangsung di rumah tangga, tempat kerja maupun di lingkungan rumah. Tahun ini peringatan itu mempunyai topik "Orange the World: Fund, Respond, Prevent, Collect!".
Seperti beberapa tahun awalnya, peringatan hari internasional ini sekalian mengidentifikasi penyeluncuran 16 Hari Aktivisme Menantang Kekerasan Berbasiskan Gender yang akan disudahi pada 10 Desember 2020, yang disebut Hari Hak Asasi Manusia Internasional.
Kekerasan pada wanita dan anak wanita adalah pelanggaran hak asasi manusia yang paling semakin makin tambah meluas, terus-terusan dan merusak di dunia kita sekarang ini sejumlah besar tidak disampaikan sebab impunitas, diam, stigma dan rasa malu yang mengitarinya.
Kekerasan pada wanita mencakup:
Kekerasan pada wanita lagi jadi rintangan untuk capai kesetaraan, pembangunan, perdamaian dan pemenuhan hak asasi wanita dan anak wanita.
Dalam seminar-online peringatan Hari Anti Kekerasan Pada Wanita 2020 yang diadakan oleh @America pada Rabu (25/11/2020), mengundang beberapa wartawan wanita.
Dalam seminar-online ini, beberapa panelis yang datang bermacam narasi dan info tentang keadaan wartawan wanita di Indonesia.
Panelis yang datang dalam seminar-online ini ialah Endah Lismartini sebagai Ketua Seksi Gender, Anak dan Barisan Marjinal Koalisi Wartawan Mandiri (AJI), Olha Mulalinda sebagai Ketua Komunitas Wartawan Wanita Indonesia Papua Barat, Gilang Parahita sebagai pendidik Publisistik di Kampus Gadjah Mada dan Virginia Gunawan sebagai wartawan VOA di Washington DC.
Endah Lismartini yang sebagai wakil AJI menjelaskan jika dalam masa 2019 sampai 2020, masih ada masalah kekerasan pada wartawan wanita.
"Wujud kekerasan itu terbagi dalam pelecahan fisik dan verbal, doxing dan teror. Kami memiliki arah membuat perlindungan beberapa wartawan wanita sampai masalah kekerasan jadi tanpa kembali," paparnya.
Olha Mulalinda menerangkan jika keadaan wartawan wanita di wilayah Papua Barat masih sering mendapatkan kekerasan dan gertakan. Wartawan wanita di Papua Barat sering mendapatkan teror dan gertakan dari bandar narkoba, petinggi wilayah dan sering mereka didakwa selaku intelejen suruhan luar negeri.
Opini lain tiba akademiki yang mengajar publisistik, Gilang Parahita menerangkan jika artis atau aktor kekerasan pada wartawan bukan hanya dikerjakan oleh petinggi, tetapi juga bisa dikerjakan oleh dokter, dosen dan karier yang lain. Kekerasan pada wartawan mulai berbeda, di mana terdapat kekerasan mob censorship.
Mob censorship ialah perlakuan penghinaan yang dikerjakan oleh sedikit orang ke seorang wartawan, hingga wartawan itu terasingkan dan tidak berani untuk meneruskan peliputannya. Parahita menambah jika wartawan muda bergender wanita harus tergabung ke koalisi wartawan untuk memperoleh pelindungan.
Virginia Gunawan dari VOA bercerita jika equality di Amerika usaha direalisasikan dengan pembagian wartawan wanita dan lelaki yang imbang dalam satu news room.
Wartawan wanita di atas lapangan yang alami kekerasan diinginkan untuk melapor supaya tubuh berkaitan bisa memberikan pelindungan dari semua gertakan yang bersambung.
Anabel Hernandez, wartawan Meksiko bepidato di Global Medium Komunitas. Dia wanita pertama yang raih penghargaan Deutche Welle Freedom of Speech Award. Dia ungkap jaringan pemerintahan Meksiko dengan kartel narkoba.
